Technology for New Era: Dari Dompet ke Digital Wallet, Transformasi Gaya Hidup dengan E-wallet

 Technology for New Era: Dari Dompet ke Digital Wallet, Transformasi Gaya Hidup dengan E-wallet




Coba bayangkan, setiap kali kita jajan es teh, kini tak perlu repot lagi mencari uang receh untuk membayar atau menunggu kembalian. Cukup dengan membuka satu aplikasi pembayaran, lalu scan barcode atau transfer, dan selesai. Kita hanya tinggal menunggu pesanan diproses oleh penjual. Itulah kehebatan baru bertransaksi di era transisi industri 4.0 menuju era industri 5.0. Sesuatu yang terasa natural, tetapi sebenarnya hasil dari perjalanan panjang perkembangan teknologi yang dipenuhi oleh berbagai inovasi baru untuk membantu kehidupan dan kemudahan aktivitas kita sehari-hari. 

Di era serba cepat ini, uang bukan lagi merupakan lembaran kertas yang disimpan di dalam dompet kita. Uang telah berubah menjadi deretan angka yang bisa melakukan transaksi pembayaran dengan satu sentuhan saja di layar gawai. Inovasi baru di gawai ini merupakan bagian dari perubahan besar teknologi atau biasanya disebut Financial Technology (Fintech). Menurut OCBC (2021), Fintech atau Financial Technology adalah inovasi teknologi dalam bidang finansial yang dikembangan untuk memudahkan transaksi keuangan. Salah satu contoh dari Fintech ini adalah e-wallet.

Namun, apa sebenarnya e-wallet itu? Menurut OCBC (2022), e-wallet adalah layanan online berbentuk aplikasi yang digunakan sebagai alat transaksi dan bisa juga digunakan untuk membayar barang melalui transfer atau scan barcode, menyimpan dana, serta membayar tagihan listrik, wifi, air, dan kebutuhan lainnya. Sederhananya, e-wallet bekerja seperti dompet biasa, tetapi berbentuk digital.

Sebelum menggunakan e-wallet, pengguna cukup mengisi saldo e-wallet melalui transfer dari bank atau minimarket, lalu bisa langsung digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Setiap kali pengguna melakukan transaksi, saldo di e-wallet akan otomatis berkurang dan tercatat di riwayat pembayaran. Hal ini membuat proses pembayaran lebih cepat dan mudah melacak segala pengeluaran kita.

Lebih lanjut, jenis-jenis aplikasi e-wallet ini diantaranya yaitu Dana, LinkAja, GoPay, OVO, dan ShopeePay. Dari berbagai jenis aplikasi tersebut, menurut hasil survey dari Populix dengan total 1.000 responden, GoPay menjadi aplikasi e-wallet yang paling digemari oleh masyarakat Indonesia yaitu sebesar 88% jawaban dari responden.


Gambar: Presentasi Peminat Aplikasi E-wallet


Selain itu, menurut VIVA News and Insight, e-wallet memiliki lima fitur unggulan yaitu:

  1. Integrasi dengan berbagai metode pembayaran.

Contohnya, saat kita sedang berbelanja online kita bisa langsung membayar menggunakan aplikasi GoPay, DANA, OVO, dan lainnya tanpa harus pindah aplikasi. Semuanya sudah terintegrasi dalam satu sistem pembayaran agar lebih mudah dan praktis.


  1. Keamanan transaksi yang ditingkatkan.

Semua aplikasi transaksi sekarang sudah memiliki sistem keamanan seperti, PIN, verifikasi sidik jari dan wajah, dan sistem keamanan lainnya. Jadi, jika gawai kita hilang, orang lain tidak bisa langsung mengakses saldo di dalam e-wallet


  1. Kemudahan dalam melakukan pembayaran dan transaksi.
    Saat kita sedang membeli makanan di kantin atau kafe, cukup dengan membuka e-wallet dan scan barcode pembayaran kita langsung selesai dalam hitungan detik.


  1. Kemudahaan pengelolaan keuangan.

Biasanya e-wallet memiliki catatan riwayat transaksi pengguna, sehingga kita bisa melihat berapa banyak uang yang sudah kita gunakan. Fitur ini bisa membantu pengguna dalam mengatur pengeluaran harian.


  1. Program loyalitas dan reward.

E-wallet biasanya sering menawarkan promo seperti cashback atau poin reward setiap kali kita bertransaksi. Poin tersebut bisa dikumpulkan lalu digunakan untuk mendapatkan potongan harga pada transaksi selanjutnya.


    Dengan fitur-fitur yang ditawarkan oleh e-wallet tersebut, tentu masyarakat akan merasa tertarik. Hadirnya fitur ini menjadikan e-wallet sebagai pusat aktivitas keuangan yang praktis. Jika dibandingkan dengan uang tunai, e-wallet memiliki keunggulan dari segi kecepatan, efisiensi, dan keamanan. Kita tidak perlu lagi membawa banyak uang di dompet dengan risiko uang bisa sobek atau hilang. 

    Namun, e-wallet juga memiliki sisi kekurangannya seperti ketergantungan kepada jaringan internet dan risiko lupa PIN. Selain itu, penggunaan e-wallet berlebihan bisa memicu gaya hidup konsumerisme. Gaya hidup konsumerisme sendiri adalah ketika seseorang cenderung membeli barang atau jasa tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya. Perilaku ini biasanya berujung dengan pembelian yang tidak rasional dan pengelolaan keuangan yang buruk. Kecepatan transaksi dengan e-wallet membuat pengguna tidak merasa mengeluarkan uang secara langsung. Akibatnya, banyak pengguna yang tidak sadar mengeluarkan banyak uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.


Sejarah Lahirnya E-wallet

Hadirnya e-wallet ini tidak terjadi begitu saja. Ada sejarah perkembangan inovasi di balik hadirnya teknologi e-wallet yang kita kenal sekarang. Menurut Evolet.io, konsep pembayaran digital mulai berkembang pada tahun 1990-an. Tepatnya, pada tahun 1994 saat transaksi digital pertama yang aman dilakukan oleh album compact disc (CD) dengan judul "Ten Summoner's Tales" milik Sting dibeli melalui platform NetMarket. Transaksi dilakukan dengan menggunakan enkripsi untuk melindungi data pribadi pembeli. Perkembangan ini membuka peluang bagi platform-platform besar seperti Amazon dan eBay nantinya.

    Kemudian, pada tahun 1997, Coca Cola memperkenalkan mesin yang memungkinkan konsumen membeli minuman melalui teks di Helsinki, Finlandia. Ide ini dilihat sebagai dompet digital pertama yang menggunakan perangkat seluler untuk bertransaksi. 


    Sementara itu, di Indonesia sendiri e-wallet dimulai sejak tahun 2007 dengan hadirnya Telkomsel T-Cash dan XL Tunai. Lalu, pada tahun 2010-an aplikasi e-wallet seperti GoPay, OVO, DANA, dan Shopee mulai hadir yang membuat pengguna e-wallet di Indonesia meningkat. Ditambah, pada tahun 2020-an saat wabah virus COVID-19 menyebar ke Indonesia, masyarakat mulai waspada terhadap media penyebaran virus COVID-19 yang salah satunya adalah uang tunai, bahkan sampai ditemukan mesin pensteril uang tunai. Namun, daripada mensterilkan uang tunai, masyarakat lebih memilih untuk menggunakan e-wallet. Hal ini membuat penggunaan e-wallet mulai menyebar, terutama di kota-kota besar diantaranya yaitu Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.


Karena kondisi tersebut, toko-toko besar dan UMKM mulai beralih menggunakan pembayaran e-wallet yang diamini lebih efisien dan cepat dalam melakukan transaksi pembayaran. Penjualan mereka pun semakin meningkat.


Pemerintah Indonesia yang sadar akan melesatnya penggunaan e-wallet dengan metode scan barcode menciptakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). QRIS semakin memudahkan pembayaran karena menyatukan semua sistem QR code agar saling terhubung. Sehingga, satu kode QRIS dapat dibayar menggunakan e-wallet apapun.


Namun, QRIS dinilai membatasi ruang gerak perusahaan asing oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui Kantor Perwakilan Dagang (USTR). USTR juga menyebutkan bahwa pihak internasional kurang dilibatkan dalam pembuatan QRIS. Meski demikian, masyarakat Indonesia tetap memberi dukungan besar karena menurut mereka QRIS adalah simbol kedaulatan digital bangsa. Indonesia dengan QRIS membuktikan bahwa inovasi Fintech dari Indonesia mampu bersaing dengan negara besar lainnya di standar internasional. QRIS sendiri dipublikasikan pada 17 Agustus 2019 mengalami peningkatan pada awal pandemi COVID-19 hingga sekarang sudah digunakan oleh lebih dari 26 juta merchant. Bahkan, QRIS sudah memasuki negara Asia lainnya seperti, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Jepang, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Technology Acceptance Model (TAM)

Setelah melihat perkembangan e-wallet, muncul satu pertanyaan: "mengapa masyarakat begitu cepat beradaptasi dengan teknologi transaksi digital seperti e-wallet?”. Pernah tidak kalian merasa setiap hari kehidupan kita semakin "menyatu" dengan teknologi? Seperti saat kita baru bangun tidur dan merasa lapar, namun malas untuk memasak sarapan atau pergi keluar untuk membeli sarapan. Sekarang, kita hanya harus pesan sarapan melalui aplikasi, untuk membayar pesanan sudah terintegrasi dengan e-wallet, semuanya terasa jauh lebih mudah, seakan-akan perkembangan teknologi sudah mengetahui apa yang kita butuhkan.

            Akan tetapi, sebenarnya apa yang membuat kita bisa cepat beradaptasi dan merasa nyaman memanfaatkan teknologi baru seperti e-wallet? Menurut teori, Technology Acceptance Model (TAM) oleh Fred D. Davis (1989) ada dua hal utama yang mempengaruhi seseorang ketika sedang beradaptasi dengan teknologi, yaitu Perceived Usefulness (PU) dan Perceived Ease of Use (PEOU). Kedua faktor ini menentukan sejauh mana seseorang bersedia dan merasa nyaman dalam menggunakan teknologi untuk membantu aktivitas sehari-hari. Jika pengguna merasa teknologi itu bermanfaat dan mudah untuk digunakan, maka pengguna akan beradapasi dengan lebih cepat. Teori ini cocok untuk menjelaskan mengapa pelajar cepat bertransisi dari menggunakan uang tunai ke e-wallet. Pelajar menilai bahwa transaksi menggunakan e-wallet lebih praktis dan efisien dibandingkan dengan uang tunai. 

E-wallet dan Pelajar             Pada awalnya, transaksi digital hanya bisa dilakukan melalui transaksi dari rekening bank, sehingga bagi pelajar yang belum memiliki KTP akan sulit memiliki dompet digital. Kini, dengan adanya aplikasi e-wallet memungkinkan pengguna di bawah usia 17 tahun dapat memilikinya dengan syarat verifikasi dari orang tua. 

Akan tetapi, ada beberapa aplikasi e-wallet yang memungkinkan pengguna tetap bisa menggunakan aplikasi tanpa verifikasi KTP. Salah satunya adalah aplikasi akun DANA Basic yang memungkinkan pengguna di bawah umur untuk memanfaatkan aplikasi dengan beberapa syarat yaitu jumlah saldo maksimum sebesar Rp2.000.000 dan batas maksimum transaksi per bulan sebesar Rp20.000.000. Lain halnya dengan akun Dana Premium yang membutuhkan verifikasi KTP, memiliki kelebihan yaitu batas saldo sebesar Rp20.000.0000 dan batas transaksi per bulan sebesar Rp40.000.0000.  Meskipun jumlah saldo dan batas maksimum yang berbeda, pelajar yang masih di bawah umur tetap leluasa melakukan transaksi.

Lalu, apa dampak e-wallet bagi pelajar seperti kita? Sadar atau tidak, e-wallet sebenarnya membantu kita untuk belajar mengelola uang, menghitung, merencanakan pengeluaran, dan  bertanggung jawab atas semua transaksi yang kita lakukan. Akan tetapi, e-wallet juga membawa beberapa dampak negatif untuk pelajar yang belum menerima edukasi keuangan. Dampak negatifnya yaitu pelajar yang cenderung bergantung pada aplikasi e-wallet merasa kesulitan jika harus bertransaksi menggunakan uang tunai, pelajar tidak sadar dengan nilai uang yang sebenarnya karena setiap transaksi yang dilakukan terasa hanya seperti menekan tombol checkout di layar, serta mengembangkan sikap FOMO (Fear Of Missing Out) dan boros karena sering tergoda dengan promo-promo yang ditawarkan untuk membeli suatu barang karena sedang trending atau populer. Oleh karena itu, sebagai pelajar, kita harus bijak dalam menggunakan e-wallet agar tidak terjebak dalam sifat konsumtif akibat mudahnya bertransaksi.

Kedepannya, e-wallet akan semakin berkembang dan memiliki kesempatan terintegrasi dengan AI (Artificial Intelligence) untuk membantu pengguna mengatur keuangannya secara otomatis. Mungkin suatu hari nanti, gawai kita bisa memberi saran atau mengingatkan kita dengan notifikasi untuk mengatur keuangan kita.


Dengan demikian, e-wallet bukan sekedar inovasi Fintech, tetapi simbol perkembangan manusia dalam bidang transaksi berupa uang. Transaksi bukan hanya tentang menerima atau memberi uang tapi juga tentang efisiensi dan rasa tanggung jawab. Indonesia telah membuktikan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu datang atau dimulai dari negara besar. Sekarang, kita sebagai pelajar yang menggunakan e-wallet harus bijak dan memastikan teknologi ini digunakan untuk hal-hal yang positif, produktif, dan bermanfaat. Jangan gunakan kemajuan teknologi ini untuk sekedar memenuhi gaya hidup saja, bahkan sampai merugikan diri sendiri.


 #OTN2025

#OTNTIK72025 #NULISBLOGOTN7 #lndocomtech2025 #PJ_BLOG @Endang_WSR @OmJay_masterBlog



DAFTAR PUSTAKA


https://www.ocbc.id/id/article/2022/01/19/e-wallet-adalah

https://www.inilah.com/aplikasi-e-wallet-terpopuler-di-indonesia

https://www.kompasiana.com/amandaputeriramadhani2994/66bb5fc4ed641563c34432e4/mengenal-sejarah-e-wallet-dan-perkembangannya-di-indonesia

https://www.viva.co.id/bisnis/1752591-5-fitur-unggulan-e-wallet-untuk-transaksi-cepat-amp-efektif-solusi-terbaik-2024

https://swa.co.id/read/462641/mengenal-sejarah-e-wallet-dan-perkembangannya-di-indonesia

https://www.kompasiana.com/amandaputeriramadhani2994/66bb5fc4ed641563c34432e4/mengenal-sejarah-e-wallet-dan-perkembangannya-di-indonesia 

https://www.detik.com/bali/bisnis/d-7877785/qris-dikritik-as-warganet-indonesia-ramai-ramai-pasang-badan

https://www.dana.id/blog/apakah-menggunakan-aplikasi-dana-harus-membutuhkan-ktp/

https://www.ocbc.id/id/article/2021/07/12/fintech-adalah

https://www.researchgate.net/publication/200085965_Perceived_Usefulness_Perceived_Ease_of_Use_and_User_Acceptance_of_Information_Technology





















Comments

  1. Wahh, sangat menambah wawasan, aku baru tau e-wallet termasuk fintech

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya lohh, selama aku cari informasi buat nulis blog ini wawasan ku sendiri bertambah

      Delete
  2. Relatee banget temanya sebagai pelajar karena sering pake qris buat jajan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, sekarang kalau mau jajan pasti yang penting ada hp biar bisa qris

      Delete
  3. Perkembangan teknologi ternyata bisa masuk ke ranah kehidupan sehari-hari yaaa seperti membayar jajanan. Tulisannya menarik sekaliiii 🤍

    ReplyDelete
  4. Wihh keren banget tulisannya, by data

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wihh, makasih pak, insyallah bisa terus berkembang

      Delete
  5. betul sekali saat ini orang sudah jarang baw auang tunai, e-wallet memudahkan semuanya utk kemudahan transaksi

    ReplyDelete
    Replies
    1. setujuu om jay, e-wallet bener-bener udah memudahkan kegiatan bertransaksi kita sehari-hari

      Delete
  6. Yupp, sukaa banget temanya juga relate, bener bener gak sangka kalau qris pernah dianggap membatasi ruang gerak perusahaan asing dari negera2 besar

    ReplyDelete
  7. Perkembangan teknologi transaksi kerenn banget, ternyata bener-bener membantu aktivitas kita sehari-hari

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya dongg, perkembangan transaksi melalui e-wallet memang membantu kegiatan bertransaksi

      Delete
  8. kerenn, informatif banget blog inii, al aku ngefans

    ReplyDelete
  9. keren banget blognya dan sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  10. Blognya sangat keren dan menambah wawasan, aku jadi tau tentang e-wallet.

    ReplyDelete
  11. Artikelnya sangat tersusun dengan rapih dan mudah dipahami, serta menambah wawasan!

    ReplyDelete
  12. Ini adalah blog yang bagus dan lengkap yang saya pernah lihat, dan menurut saya ini adalah pembahasan yang cocok dengan sekarang karena sekarang mau apa apa harus memakai teknologi dan salah satunya seperti e wallet tersebut. Good Job Aliyya, semangat terus🤩🫵❗️

    ReplyDelete
    Replies
    1. thank you fauu, semoga bisa terus berkembang dalam menulis blog nantinya

      Delete
  13. dengan ada nya blog ini, wawasan saya bertambah! sangat bermanfaat dan informatif!

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulilah dengan blog ini bisa menambah wawasan

      Delete
  14. Wah, blog ini sangat informatif dan menambah wawasan tentang q-ris!

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, semoga bisa terus menambah wawasan nantinya

      Delete
  15. ckckck keren banget lho tulisan mu ini .saya jadi jadi tahu kegunaan qris tak hanya dapat membayar sesuatu dengan lebih mudah namun ternyata bisa mengajarkan kita untuk dapat mengelola uang secara lebih efektif, semangat terus ya menuliskan hal-hal yang yang informatif dan memberikan kita wawasan yang baru

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, qris dan e-wallet ini ternyata juga mengajarkan dan melatih kita cara untuk mengelola uang. Makasihh semangatnya

      Delete
  16. Blog yang sangat keren dan berguna, memberi insight dan pengetahuan baru

    ReplyDelete
  17. wahh ternyata e-wallet berguna juga yaa, kita sekarang udah ngga perlu bayar pake uang tunai tapi bisa juga dengan e-wallet

    ReplyDelete
  18. Ternyata E Wallet sudah berkembang sampai penggunaanya menjadi praktis ya, saking praktisnya, E Wallet ini dapat digunakan pelajar-pelajar SMP untuk membeli makanan seperi membayar melewari Q Ris

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, tanpa disadari sekarang pelajar rata-rata sudah menggunakan e-wallet untuk membayar makanan atau minuman di kantin, penjual kantin juga sudah menyiapkan qris untuk transaksi pembayaran

      Delete
  19. Keren banget blognya. Bermanfaat juga ternyata e wallet ya, sekarang udah ga usah ribet bayar pake cash

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, gak berasa baget perkembangannya untuk membantu transaksi kita sehari-hari

      Delete
  20. Blog ini sangat informatif dan menambah wawasan juga relate banget sebagai pelajar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, untuk transaksi pas lagi istirahat di kantin bermanfaat banget

      Delete
  21. Kerenn, selama aku baca blog ini informatif banget, banyak hal tentang e-wallet yg dlunya aku gak tau jadi tau

    ReplyDelete
  22. blog ini sangat informatif dan menarik banget ya? blog ini bermanfaat banget bagiku, karena aku jadi makin tahu dan mengerti tentang teknologi yang ada di era ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, dengan blog ini bisa memperluas wawasan tentang financial technology ini

      Delete
  23. wahh, gila sih emang se- bermanfaat itu ya e-wallet. keren Aliyya artikel ini sangat gampang untuk dipercayai!

    ReplyDelete
  24. Blog ini telah menambah wawasan saya mengenai e-wallet. Ternyata di zaman sekarang, e-wallet sangat bermanfaat yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dongg, e-wallet sudah mempermudah aktivitas bertransaksi kita

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dive Into the Future: Saat Pelajar Bertemu Dunia Teknologi di Indocomtech 2025

Belajar Coding dan Kecerdasan Buatan (AI)